Senin, 09 Juli 2018

SEPANJANG JALAN DALAM DOAKU

Bagian dari perjuangan cinta tanpa harap,
Bagian dari pemuja cinta yang lama tak reda
Kuselimuti hari dengan ucapan dan panggilan untuk cinta
Purnama kulewati entah berapa kali datang dan berlalu

kini dalam 2 purna aku mulai memahami
Apa ini benar tak termaafkan
sampai mengucapkan maaf dan memaafkan tak terucap
Apa kecewa berhias amarah
mungkin memang harus begitu..

tiada mengapa ..
ada Tuhan yang akan menemani hatiku
biarlah kulupakan semuanya
kumohon ampun padaNya

Tangisku mengucap penyesalan
Bukan cinta yang kusesali
tapi sikapmu yang tiada pernah bisa memaafkan
semoga terampuni


Selasa, 29 Mei 2018

Ramadhan Berkah

Entah ini ramadhan keberapa aku tidak menghitungnya
yang terasa adalah berkahku membawa
Berkah dari yang kuasa..
terang terasa semuanya, bahwa masa lalu tidak sepenuhnya sempurna

Masa kiniku anugerah ..
semua tidak lagi seperti dulu...
penghujung perjalanan terlewati dalam pesona asa lalu
tidak ada yg uar biasa selain bersandar padaNya
Sang Pemberi Karunia..

Dia telah menunjukki aku jalan yang sebenarnya
Jalan yang halus tiada berkerikil..
waktuku menjadi asa yg tertunda..
tapi anugerah ini menjadi milikku
aku Berlindung padaMU ya Allah..

Jumat, 18 Mei 2018

Rinduku Menjadikanmu Satria

Ketika bulan mendampingi malam
dengan cinta aku bertegur sapa
menyematkan rinduku yang menghujam di sanubari
tiada rindu yang dipandang istimewa
semua terasa sederhana dalam hati
tiada yang tahu bagaimana gencarnya rasa

Dia menyematkan diri dalam tubuhku
se akan menjadi lunglai
dan kegentaran datang menyelinap
menyapa dirinya tapi tak terdengar
menyusutkan asa yang tertinggal

ketika rindu semakin memanah..
menyembulkan rasa...
rasa bahwa kau semakin menjadi satria
satria penghuni rindu yang tak berujung
menggapaiku dalam khayalan kosong
indahnya menyatukan hati dengan satria pemilik rinduku
seperti hati  yang tak akan lelah mencintai...
dan satriaku entah dimana kini

Jumat, 23 Maret 2018

nem tertinggi SMAN 8 Jakarta 2017

PENCAPIAN NILAI TERTINGGI PER MATA PELAJARAN
KELOMPOK IPA
JUMLAH NILAI TERTINGGI
1. FIRA AGFARIKA SUSILOWATI XII F 383.5
2. MUCHAMMAD ADRIAN FIRMANSYAH XII D 381.0
3. NADHIFAH VIOLENTA SEDIRAPUTRI XII F 379.5
4. MARTHIN ANGGIA SIRAIT XII G 379.5
5. RAESHAD PARANDANGI XII A 378.0
6. TUBAGUS YASSER MUHAMMAD XII A 375.0
7. M. YAFIE ABDILLAH XII C 375.0
8. ANINDYANARI LINTANG SARASWATI XII F 375.0
9. ADE ANDITA PUTRI XII E 374.5
10. KHALIFAH LAZUARDI FIRMANSYAH XII F 374.0

Minggu, 14 Januari 2018

hak anak laki-laki setelah menikah


Menikah merupakan salah satu Sunnah Rosul yang sangat dianjurkan, untuk membangun keluarga sakinah adalah dambaan setiap insan. Namun, sebelum menikah, seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kewajiban yang besar kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ibundanya.
Apabila  anak perempuan menikah, maka dia akan menjadi hak suami. Ayah dan Ibunya tidak lagi memiliki hak atas perempuan tersebut. Namun, bagi anak laki-laki, kewajiban berbakti kepada ibu tidak akan hilang begitu saja. Sehingga meski sudah memiliki istri dia tetap menjadi hak Ibunya.
Mengapa adanya perbedaan hak ibu terhadap anak laki-lakinya yang telah menikah? Lantas bagaimana pula seharusnya anak laki-laki memperlakukan ibunya setelah menikah, di samping tetap mewujudkan keluarga bersama istri dan anak-anak? Simak ulasan berikut.
Secara khusus atau dengan sangat istimewa, Islam menekankan hak ibu kepada anak laki-laki kandungnya. Mengapa terhadap anak perempuan kandungnya tidak? Karena anak perempuan dilepas setelah diperistri seseorang. Sedangkan anak laki-laki tidak bisa lepas, walaupun ia sudah beristri.
Dengan demikian, pengabdian anak laki-laki kepada ibu kandungnya tidak putus. Tetapi pengabdian anak perempuan putus dan beralih kepada suaminya. Karena itu, anak laki-laki lebih terikat kepada ibunya. Sementara anak perempuan terlepas ikatan pengabdiannya kepada ibunya sendiri.
Laki-laki wajib membelanjai istri dan anaknya serta wajib terus memperhatikan nasib ibu kandungnya. Anak laki-laki yang dewasa, lalu menikah, ibunya lebih berkuasa terhadap dirinya dari pada istrinya. Karena ibu lebih berhak kapada anak laki-laki kandungnya, maka anak tersebut harus berusaha menjaga perasaan ibunya.
Lantas, bagaimana jika kebutuhan istri dan kebutuhan ibu bersamaan waktunya? Bila kepentingan makan dan minum istri sudah terpenuhi, lalu istri punya keperluan lain yang tidak pokok, maka yang wajib didahulukan adalah kepentingan ibu.
Demikianlah hak ibu kepada anak laki-laki kandungnya. Jadi istri harus menyadari bahwa kepentingan ibu kandung suaminya adalah kepentingan yang hampir mutlak kepada si anak. Karena suami masih memiliki kewajiban kepada ibunya.
Jika seorang istri tidak menyadari aturan Islam seperti ini, maka hubungan suami dan istri bisa saja berjalan tidak baik. Oleh sebab itu, disarankan kepada para istri untuk memahami ilmu agama. Ketika melihat suaminya begitu taat kepada ibu kandungnya, seorang istri harus meridhoinya.
Keistimewaan seorang ibu juga tergambar dari hadist Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah dan bertanya:
“Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu.” (Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)
Ada seseorang yang datang, disebutkan namanya Muawiyah bin Haydah r.a., bertanya: “Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah saw: “Ibumu.” Dengan diulang tiga kali pertanyaan dan jawaban yang sama.
Pengulangan kata “ibu” sampai tiga kali menunjukkan bahwa ibu lebih berhak atas anaknya dengan bagian yang lebih lengkap, seperti al-bir (kebajikan), ihsan (pelayanan). Ibnu Al-Baththal mengatakan bahwa ibu memiliki tiga kali hak lebih banyak daripada ayahnya. Karena kata ‘ayah’ dalam hadits disebutkan sekali sedangkan kata ‘ibu’ diulang sampai tiga kali.
Hal ini dapat dipahami dari kondisi ibu ketika hamil, melahirkan, menyusui. Tiga hal ini hanya bisa dikerjakan oleh ibu, dengan berbagai penderitaannya, kemudian ayah menyertainya dalam tarbiyah, pembinaan, dan pengasuhan. Hal itu diisyaratkan pula dalam firman Allah SWT Surat Luqman ayat 14.
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun—selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun—bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.
Allah menyamakan keduanya dalam berwasiat, namun mengkhususkan ibu dengan tiga hal yang telah disebutkan di atas. Sementara itu, Imam Ahmad dan Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adabul Mufrad, demikian juga Ibnu Majah dan Al Hakim menshahihkannya dari Al-Miqdam bin Ma’di Kariba, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Sesunguhnya Allah swt. telah berwasiat kepada kalian tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ayah kalian, kemudian berwasiat tentang kerabat dari yang terdekat.”
Hal ini memberikan kesan untuk memprioritaskan kerabat yang didekatkan dari sisi kedua orang tua daripada yang didekatkan dengan satu sisi saja. Memprioritaskan kerabat yang ada hubungan mahram daripada yang tidak ada hubungan mahram, kemudian hubungan pernikahan.



Minggu, 17 September 2017

bersikap baik


Saudariku harus menyadari bahwa hidup ini penuh dengan cobaan, ada kalanya istri dimusuhi oleh suami, dan begitu pula sebaiknya, ada kalanya suami dimusuhi istri. Kita harus bersabar dan saling menasihati, karena Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (merek) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun: 14)
Firman Allah SWT perlu kita taati


Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Al-Birr (kebajikan) adalah akhlak yang baik.”
Dan sabda beliau ‘alaihish shalatu was salam,
Jangan meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun hanya menyambut saudaramu dengan wajah yang ceria.”


Read more https://aslibumiayu.net/9812-bagaimanakah-sikap-istri-jika-memiliki-suami-pemarah.html
 

SEPANJANG JALAN DALAM DOAKU

Bagian dari perjuangan cinta tanpa harap, Bagian dari pemuja cinta yang lama tak reda Kuselimuti hari dengan ucapan dan panggilan untuk ci...