Jumat, 09 April 2010

Padanan Suara Hati

menyatukan bukan jawaban dari kesepadanan, alamat hati selalu yakin pada tempat yang ditinggali,,
pada jiwa mempesona cinta itu akan singgah selamanya,,
pada keyakinan kesetiaan akan terjaga,,
lalu pada kekecewaan hati menjadi setengah patah,,

Tidak semua orang yang pandai menyajikan puisi kata hati memiliki kesetiaan, sehingga tak ada padanan yang serasi untuk dikatakan sebagai manusia dambaan yang abadi, sang pesona seperti pujangga terkenal Kahlil Gibran juga menyinggahkan cinta pada banyak hati,,

Jadi dimana padanan suara hati menggema bak irama rasa nan abadi,, pada cinta yang memiliki rasa memiliki, pandai menjaga hati, membedakan antara cinta dan tanggungjawab... Itulah padanan suara hati...

Selasa, 06 April 2010

Kalimat Untuk Ibuku

Aku takut bahwa aku menjadi bebannya, maka dengan berusaha tenang kukatakan " Nggak Usah khawatirin aku, aku akan baik-baik saja" kemudian kalimat sholawat kulantumkan, kemudian malamnya ia pergi meninggalkan aku untuk selama-lama Senin, 22 Maret 2010, 23.30)..Begitu cepat semuanya.. aku kehilangan, tapi kucuba untuk sabar dan ikhlas karena ibuku milikNya,, Biarlah derita di dunia berakhir dan Ia kembali pada Sang Khalik..

"Ya Allah Ampuni dosa-dosanya, lapangkanlah jalannya ke HadapanMu, Kuatkan aku dan beri kesabaran yang kuinginkan, bahagiakan hidupku setelah berbulan-bulan menanggung beban seperti ini.. Ampuni pula dosa-dosaku,"

Minggu, 21 Maret 2010

Memetik Kenangan Masa..

Keindahan menjulang saat waktu telah tertinggal, kala dekat tak ada yg merasakan indahnya menikmati..segala'a seolah berjalan semesti'a..ada tawa ada luka, ada skt dalam kumparan belenggu kejenuhan dan naiknya egoisme diri. Mungkn saat itu kita tdk menjadi manusia brsyukur dlm kebersamaan. Dan ketika sdh trlewatkan..rindu membengkak dlm dada, terasa indahnya, pesonanya, hembusan nafas kebaikannya.. Begitulah kita merasakan sosok yg telah trpisah dr khdpn kita.. dan kini kita seakan meniti kenangan masa mendamba kebaikan'a, mengingat suara'a..bahkan nada syahdunya.. Hati pun b'tnya ' Kapan Kita Bersama Lagi ?' betapa indah knangan,

IBUKU, WARNA CINTA DAN PENDULANG KESABARAN

Waktu aku mengungkap indah'a warna cintaku,ibuku tak peduli,,yg diungkapkan adalah perlunya pengorbanan dan pengabdian untk hidup. Aku kecewa...Betapa tidak? Tak bolehkah aku pnya hati yg harus kumanja untk mengejar bahagia ? Rindu yg jadi perhiasan dan perhiasan, keinginan tak bisa diwujudkan bagi wanita, aku masghul, Biduk jiwaku terguncang kekalutan., hak ku hilang,tp mencoba merenungi arah khdupan,, memaparkan hati dgn ego tak akn brmakna.. Ibuku menjadi org pertama yg harus kupahami,wanita yg membuat aku ada, b'nafas dan menikmati alam... 'Warna cinta tak senada dgn bahagia' pikirku.. Gelombang khdpun menukikkan pelangi rasa yg b'kibar... Apakah berkah hdp adalah doa dan restu org tua? Aq tak berusaha menggali jwbn atas p'tnyaanku, warna-warni khdpn adalah realita. Ketika hati melantumkn nada kesakitan dan dendam, kembali datang 'ibuku' sebgai pendulang kesabaran.. Ya Tuhan, seperti inikah khdpn.. Dan sinar keyakinan menghampiri dr manusia pilihan untkku..ibuku,ibuku..ya ibuku. TUHAN ampuni aku !

LELAKI TERKASIHKU...

Lelaki terkasihku tidak pernah diterima ibuku, yg nampak adalah kekonyolannya menyiratkan sejuta ketidakpercayaan.. Aku tahu ini berat untuk kujadikan keyakinan akan cintaku, kekasihku terasa gelap menerjang badai cinta yg mengguncang.. aku masghul, menjadikan semuanya adalah dilema cinta yng mengambangkan hati dalam ketidakpastian, dan aku hanyA berucap bersama keraguan " Maafkan jika aku tidak mendampingimu!!"...

Minggu, 28 Februari 2010

Permohonanku Hanya PadaNya

Ketika segenap kesulitan menghimpit dinding hati yang menorehkan ketidakmampuanku untuk berbuat sesuatu.. aku merasa tak ada kekuatan lagi selain memohon KepadaNya. Tuhanku yang maha Tinggi tempatNya..
Jiwa keringku menyeringai, mengiringi langkah kepedihan yang menghujam di jantungku..
"Ya Allah tolonglah aku, tolonglah segenap kesulitanku..."

Kesetiaan Wanita

"Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya dan darinyalah aku mendapatkan keturunan."

Begitulah Rasulullah SAW menggambarkan kepribadian Siti Khadijjah r.a., istri pertamanya. Seorang isteri sejati, muslimah yang dengan segenap kemampuan diri berkorban demi kejayaan Islam.

Siti Khadijah r.a. berasal dari keturunan terhormat, mempunyai harta kekayaan yang tidak sedikit serta terkenal sebagai wanita yang tegas dan cerdas. Bukan sekali dua kali pemuka kaum Quraisy berusaha untuk mempersunting dirinya. Tetapi pilihannya, justru malah jatuh pada seorang pemuda yang bernama Muhammad, pemuda yang terkenal sebagai seorang yang terpercaya (al-amin), yang tak tergiur oleh kekayaan dan kecantikan Siti Khadijah r.a.

Siti Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia banyak membantu dalam meneguhkan tekad Rasulullah SAW ketika melaksanakan risalah dakwah. Ia senantiasa berusaha meringankan kepedihan hati dan menghilangkan keletihan serta penderitaan yang dialami oleh suaminya, dalam menjalankan tugas dakwah menegakkan kalimat tauhid. Inilah keistimewaan dan keutamaan Khadijah dalam sejarah perjuangan Islam. Beliau adalah sumber kekuatan yang berada di belakang Rasulullah SAW.

Setia Kapanpun

Mari kita singkap kembali peristiwa yang sungguh mendebarkan jantung Rasulullah SAW. Peristiwa itu ialah penerimaan wahyu yang pertama di Gua Hira. Sekembalinya ke rumah, baginda berkata kepada isterinya yang tercinta,”Aku berasa khawatir terhadap diriku.”

Siti Khadijah r.a. berusaha menabahkan hati suami yang ditaatinya dengan berkata, “Wahai kakanda, demi Allah, Tuhan tidak akan mengecewakanmu karena sesungguhnya kakanda adalah orang yang selalu memupuk dan menjaga kekeluargaan serta sanggup memikul tanggungjawab. Dirimu dikenali sebagai penolong kaum yang sengsara, sebagai tuan rumah yang menyenangkan tamu, ringan tangan dalam memberi pertolongan, senantiasa berbicara benar dan setia kepada amanah.”

Apakah ada wanita lain yang dapat menyambut sedemikian baik peristiwa bersejarah yang berlaku di Gua Hira seperti yang dilakukan oleh Khadijah kepada suaminya? Apa yang dikatakan oleh Khadijah kepada suaminya pada saat menghadapi peristiwa besar itu menunjukkan betapa besarnya kepercayaan dan kasih sayang seorang isteri kepada suami. Sedikit pun Khadijah tidak merasa ragu-ragu atau syak di dalam hatinya. Persoalannya, dapatkah kita berlaku demikian?

Siti Khadijah r.a. merupakan wanita kaya dan terkenal. Ia bisa saja hidup bermewah-mewah dengan hartanya sendiri. Namun, semua itu dengan rela dikorbankannya untuk memudahkan tugas-tugas suami. Hal ini jelas menunjukkan beliau merupakan wanita yang mendorong kemajuan pahlawan umat manusia, melindungi pejuang terbesar dalam sejarah dengan mewujudkan kedamaian dalam kehidupan rumahtangga. Sikap inilah yang menjadi salah satu sumber kekuatan Rasulullah SAW sepanjang kehidupan mereka bersama.

Setia Dimanapun

Mari kita teliti, fahami serta hayati beberapa gambaran kesetiaan Khadijah yang telah membina kekuatan pada diri dan kehidupan penegak risalah Islam itu.

Sepanjang hidupnya bersama Rasulullah SAW, Siti Khadijah begitu setia menyertai baginda dalam setiap peristiwa suka dan duka. Setiap kali suaminya ke Gua Hira, ia pasti menyiapkan semua bekal dan keperluannya. Seandainya Rasulullah SAW agak lama tidak pulang, ia akan datang menengok untuk memastikan keselamatan sang suami. Sekiranya Rasulullah SAW khusyuk bermunajat, beliau tinggal di rumah dengan sabar sehingga suaminya pulang. Apabila suaminya mengadu kesusahan serta berada dalam keadaan gelisah, sekuat diri ia menenteramkan dan menghiburkan hati suaminya sampai-sampai diliputi ketenangan. Setiap ancaman dan penganiayaan dihadapi bersama. Malah dalam banyak kegiatan peribadatan Rasulullah SAW, Siti Khadijah r.a. Dipastikan selalu ada bersama dan membantu baginda dari mulai hal kecil seperti menyediakan air untuk mengambil wudu.

Kecintaan Khadijah bukanlah sekadar kecintaan kepada suami, sebaliknya yang jelas adalah berlandaskan keyakinan yang kuat tentang keesaan Allah SWT. Segala pengorbanan untuk suaminya adalah ikhlas untuk mencari keridlaan Allah SWT. Allah Maha Adil dalam memberi rahmat-Nya. Setiap amalan yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan pasti mendapat ganjaran yang kekal. Itu termaktub dalam firman-Nya :

Barang siapa yang mengerjakan amalan saleh, baik lelaki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. An-Nahl: 97)

Janji Allah itu pasti benar. Kesan kesetiaan Siti Khadijah r.a. bukan sekadar menghasilkan kekuatan yang mendorong kegigihan dan perjuangan Rasulullah SAW, malah membawa berkah yang besar kepada rumah tangga mereka berdua. Anak-anak yang lahir juga adalah anak-anak yang saleh. Keturunan Rasulullah SAW merupakan insan yang senantiasa taat melaksanakan perintah Allah SWT. Semua ini menghasilkan kekuatan yang membantu meningkatkan perjuangan Islam.

Wahai muslimah, sekarang adalah masa untuk kita hidupkan kembali hakikat ini dalam kehidupan kita. Semoga kekuatan Islam akan kembali menaungi kehidupan setiap insan.